Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Masyarakat yang menghadapi bencana juga berpotensi mengalami gangguan psikologis akibat perubahan kondisi kehidupan secara mendadak. Ketidakpastian selama proses evakuasi serta kekhawatiran terhadap arah penyebaran api dapat meningkatkan rasa takut dan kecemasan.
Beberapa dampak psikologis yang dapat muncul sebelum, selama, maupun setelah kebakaran hutan meliputi kecemasan yang berlebihan, gangguan tidur, tekanan emosional, serta kesulitan berkonsentrasi. Masyarakat terdampak juga dapat mengalami mimpi buruk terkait kebakaran dan perasaan bersalah tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan proses pemulihan pascabencana.
Hal tersebut sejalan dengan informasi yang disampaikan oleh American Psychiatric Association (APA) dalam publikasinya pada 27 Agustus 2024 berjudul The Mental Health Impacts of Wildfires. Paparan asap kebakaran hutan diketahui berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat akibat kecemasan dalam 48 jam setelah paparan. Penelitian lain juga menemukan bahwa kesulitan berkonsentrasi dapat bertahan hingga satu tahun setelah seseorang terpapar kebakaran hutan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan terhadap kesehatan mental dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api, evakuasi, dan pemulihan lingkungan. Kondisi psikologis masyarakat juga perlu menjadi bagian dari perhatian dalam proses pemulihan pascabencana.
Sejalan dengan hal tersebut, Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera menekankan pentingnya menjamin kehidupan yang sehat serta mendukung kesejahteraan bagi semua orang. Kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan manusia. Upaya menjaga kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan kondisi fisik maupun psikologis, termasuk bagi mereka yang terdampak bencana lingkungan.
Melalui perspektif ini, kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental masyarakat. Pencegahan kebakaran hutan, peningkatan kesadaran terhadap risiko bencana, serta penyediaan dukungan psikologis bagi masyarakat terdampak merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat.
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan mental. Menjaga alam bukan hanya tentang melindungi ekosistem, tetapi juga tentang menjaga kehidupan dan kesejahteraan manusia.